Minyak goreng langka, solusinya apa ya?

Minyak goreng langka, solusinya apa ya?

Siang itu, saya menjemput istri saya pulang mengajar dari sekolahnya dengan sepeda motor matic. Sudah kebiasaan kami untuk membeli keperluan bahan-bahan untuk memasak, karena kami belum makan siang. Kebetulan di rumah persediaan minyak goreng menipis, jadi kami memutuskan untuk membelinya. Akhir-akhir ini minyak goreng langka, kami sudah tahu itu, namun kami ingin coba mencari dulu. Barangkali nemu.

Kami telusuri penjuru pasar dan minimarket yang ada, namun tak kunjung menemukannya juga. Akhirnya, ada juga satu minimarket yang sedia minyak goreng. Istriku masuk untuk membelinya, namun ia ingin memastikan dulu bertanya kepada kasirnya. “Untuk minyak goreng bisa dibeli dengan minimal pembelanjaan lima puluh ribu rupiah ya, Bu.” Kata kasir.

Istriku keluar dengan wajah lesu, “Kita cari yang lain saja, Mas. Di sini ada tapi harus belanja 50 ribu dulu, kita kan nggak mau belanja yang lain, cuma minyak goreng saja.”

Aku pun mengiyakan dan siap menyalakan motor maticku. Lagian, kita kan nggak punya uang segitu.

Setelah pencarian yang menjemukan akhirnya kami hanya membeli kecap dan margarin di salah satu toko. Memang tidak ada yang jualan minyak goreng saat ini. Kalaupun ada harganya mahal. Atau kalaupun ada? Ya ada syarat-syaratnya.

viral syarat beli minyak goreng wajib fotkopi KK dan Bukti Vaksin

Kok bisa sih minyak goreng langka, ke mana sih minyak goreng? Apa ya ditimbun? Atau diekspor? Orang kampung sepertiku tidak sampai memikirkannya. Pokoknya orang kampung sepertiku hanya bisa bersyukur ketika hari ini bisa makan. Terpaksa untuk makan siang ini, bungkus minyak goreng  yang  masih ada kami peras habis sampai keluar minyaknya, sisa-sisa minyak goreng pun kami pakai.

Ada-ada saja sih pemerintah saat ini. Ngatur-ngatur, meregulasi kebutuhan pokok seperti minyak goreng. Tujuannya itu apa lho. Apakah ini skenario ekonomi yang tidak bisa dimengerti oleh orang kampung sepertiku. Ya aku denger-denger negara masih mengalami defisit keuangan tahun ini setelah membuat program-program dan bantuan-bantuan untuk menanggulangi pandemi. Tapi kok ya seperti ini. Apa-apa itu harus digoreng lho. Gorengan, nasgor, tahu, tempe bahkan bikin bumbu juga harus digoreng, kecuali sayur asem.

Sebelumnya, harga rokok naik. Ralat, maksudku yang naik bea cukainya sehingga harga rokok naik rata-rata hingga 30% untuk SKM (Sigaret Kretek Mesin), dan untuk rokok SKT (Sigaret Kretek Mesin) sampai 7% saja. Perokok tetap santai dengan kenaikan itu, ya walaupun dalam hati misuh. Tapi tidak kita lihat ada perlawanan atau demo dari petani tembakau, perusahaan rokok dan perokok kan? Padahal dari kenaikan ini, tiga elemen tadi tidak ada yang diuntungkan.

Saya juga perokok, dan saya paham betul bahwa setiap batang rokok yang saya habiskan sangat berarti. Bukan hanya paru-paru saya yang tersenyum namun juga pendapatan pajak negara ini ikut tersenyum. Pembangunan di negara ini, termasuk gaji ASN dan pengeluaran negara yang bersumber dari pajak paling besar didapatkan dari bea cukai rokok. Apalagi negara kita sedang tombok seperti kalah judi setelah habis-habisan gelut sama pandemi ini. Jadi ya sudahlah. Semoga pajaknya tidak dikorupsi, itu saja harapannya.

Itu tadi rokok. Lha ini minyak goreng. Pastinya berdampak sangat luas terutama bagi ibu-ibu, pedagang dan pengusaha kecil. Bagaimana nasibnya tetanggaku yang sedang hajatan yang musti memasak hidangan untuk para tamu undangan? Bayangkan bagaimana penjual cireng saat ini berjualan? Apa bisa cireng digoreng dari hasil perasan wajah yang berminyak?

Walaupun langka minyak goreng bukan berarti tidak ada sama sekali. Penjual cireng pun pasti tetangganya ada yang tiba-tiba jualan minyak goreng yang harganya 19 ribuan ke atas. Mau tidak mau ya pakai itu.

Nah itu tadi sedikit cerita saya mengenai minyak goreng. Daripada saya pusing, lebih baik kita memikirkan solusinya saja. Sementara ini ada empat hal yang muncul di pikiran bego saya. Empat solusi tersebut yakni:

  1. Hindari goreng-goreng, bakar atau rebus saja

Karena minyak goreng sulit ditemukan, maka solusinya agar kita tetap bisa makan dan kita tidak pusing minyak goreng langka yaitu dengan tetap mengolah bahan makanan yang ada di rumah tanpa menggorengnya. Jadi, kita manfaatkan panci rebus kita, dan alat bakar kita.

Kalau ada ikan kita bakar, kasih kecap, iriskan bawang dan bumbu. Kalau ada  tempe atau ada tahu boleh kita rebus atau bakar juga boleh. Intinya kita jangan sentuh panci goreng. Alih-alih kita berhenti menggunakan minyak goreng kita juga sudah membiasakan makan sehat dengan menghindari kolesterol.

  1. Tanam pohon kelapa sawit sendiri

Banyak orang kampung yang memiliki sawah, kebun dan pekarangan. Contohnya di daerah saya sendiri para petani yang jarang aktif menanami kebunnya dengan pohon sengon. Banyak orang menanam sengon karena perawatannya yang minimal ketika pohonnya sudah kuat. Sehingga setelah agak besar bisa ditinggal mengerjakan pekerjaan yang lain.

Dengan menanam pohon sawit sendiri, lalu diolah menjadi minyak goreng sendiri pasti akan jauh lebih bagus dan bisa menjawab kelangkaan minyak goreng yang dibuat-buat ini. Walaupun dibutuhkan effort  (usaha) yang lebih keras dan waktu yang lebih lama untuk tahu cara mengolahnya.

Sebenarnya minyak goreng tidak hanya bisa dibuat dari kelapa sawit saja. Kelapa biasa dan zaitun juga bisa diolah menjadi minyak goreng. Tertarik untuk tanam kelapa sawit dan mengolah minyak sendiri? Back to nature ala-ala Harvest Moon.

  1. Impor sendiri dari luar negeri

Susahnya mencari minyak goreng karena diregulasi, bagaimana kalau kita beli minyak goreng yang tidak diregulasi? minyak goreng luar negeri contohnya? Apa  bisa? Jawabannya bisa.

minyak goreng di alibaba

Kamu bisa membeli minyak goreng di Alibaba semisal dengan harga 12 ribu rupiah per liter dari seller luar negeri. Namun ada minimal ordernya. Ada yang  minimal 1000 karton dan ada yang 24000 liter. Dan juga harus melakukan chat terlebih dulu pada supplier untuk membuat deal (inquiry) dan tidak bisa langsung order.

Asumsi kalau sudah deal dengan supplier kira-kira perhitungannya adalah 24000 liter kali 12.500 itu sama dengan 300 juta. Namun itu belum termasuk ongkirnya, saya tidak tahu ongkirnya berapa karena saya belum pernah beli. Kalau dijual lagi dengan harga Rp.15000 kali 24000 liter sama dengan 360.000.000. Jadi masih untung kasar 60 juta rupiah.

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Niatnya beli minyak goreng untuk persediaan pribadi dan tetangga malahan kamu menjadi importir minyak goreng tersukses di Indonesia. Tapi modalnya banyak ya? Apa patungan saja kita?

Namun bukan tanpa efek samping ketika kita membeli barang dari luar negeri. Karena artinya uang kita yang seharusnya digunakan untuk mensupport perusahaan dalam negeri justru terdistribusi ke luar negeri dan akhirnya dikelola di sana juga. Kita dapat minyak goreng namun mereka dapat keuntungan untuk mengembangkan bisnis plus melemahkan mata uang rupiah.

  1. Jangan jadi orang miskin

Agar tidak pusing dengan kelangkaan minyak goreng salah satunya adalah jangan jadi orang miskin. Dengan tidak menjadi miskin Anda tidak perlu pusing lagi dengan kelangkaan minyak goreng. Anda boleh pusing ketika Bitcoin turun saja ya, hehe.

Anda tidak perlu pusing karena Anda bisa makan di restoran yang Anda inginkan, anda mau pesen gofud atau makanan siap saji terserah wong Anda punya uang. Selera anda juga sudah bukan gorengan kan? Orang kaya.

Atau kalau memang mau makan di rumah tinggal suruh ART anda yang belanja. Masa bodo mbak ART-nya nemu atau tidak minyak gorengnya ketika belanja, pokoknya Anda sudah kasih uang lebih. Anda tidak peduli dengan hiruk pikuknya mbak ART dan rakyat jelata antre beli minyak goreng. Tapi, kalau dipikir-pikir miris juga ya Anda?

Nah, itu dia solusi bagi kelangkaan minyak goreng dari pikiran saya yang tidak perlu diambil hati dan didengarkan ya, Sobat. Mari kita berdoa  untuk negeri kita tercinta ini agar semakin makmur dan sejahtera rakyatnya. Langkanya minyak goreng hanya satu dari sekian masalah yang kita hadapi bersama saat ini jadi kita hanya bisa bersabar sambil mencari solusi dan tetap fokus bekerja dan berkarya.